Minggu, 07 Januari 2024

Makalah Keterampilan Berbicara

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.  Latar Belakang

Berbicara merupakan keterampilan berbahasa yang bertujuan untuk mengungkapkan ide, gagasan, serta perasaan secara lisan sebagai proses komunikasi kepada orang lain. Dalam proses berbicara seseorang akan mengalami proses berfikir untuk mengungkapkan ide dan gagasan secara luas. Proses berbicara sangat terkait hubungannya dengan faktor pengembangan berfikir, berdasarkan pengalaman yang mendasarinya. Pengalaman tersebut dapat diperoleh melalui membaca, menyimak, pengamatan dan diskusi.

Dalam kesehariannya, orang membutuhkan lebih banyak waktu untuk melakukan komunikasi. Bentuk komunikasi yang paling mendominasi dalam kehidupan sosial adalah komunikasi lisan. Orang membutuhkan komunikasi dengan orang lain dalam memberikan informasi, mendapatkan informasi, atau bahkan menghibur. Selain itu kemampuan berkomunikasi sangat penting dimiliki seseorang untuk menyampaikan pendapat kepada orang lain.

Berbicara merupakan kegiatan komunikasi lisan yang mengikutsertakan sebagian dari anggota tubuh manusia, hal ini erat kaitannya dengan kegiatan yang lain seperti membaca, mendengar dan menulis. Menurut Arsjad dan Mukti (1987: 25), kemampuan berbicara tidak hanya mempunyai hubungan timbal balik dengan kemampuan mendengarkan, tetapi juga berhubungan dengan kemampuan menulis dan membaca. Seorang pembicara yang baik, umumnya memerlukan persiapan menulis. Pembicara hendaknya mengetahui bagaimana mendapatkan topik yang menarik dan bagaimana memecah topik ini menjadi kerangka, sehinggakemudian dapat dijadikan pedoman dalam mencari bahan. Bahan ini diperoleh dari bermacam sumber, antara lain melalui membaca.

Tujuan utama berbicara adalah berkomunikasi. Agar dapat menyampaikan informasi dengan efektif, sebaiknya dalam berbicara benar- benar memahami isi pembicaraanya dengan benar dan juga dapat mengevaluasi efek komunikasinya terhadap pendengar. Jadi bukan hanya apa yang dibicarakannya, tetapi bagaimana mengemukakannya. Hal itu menyangkut masalah bahasa dan penguvapan bunyi-bunyi bahasa tersebut. Kemampuan berbicara siswa ini sangat penting dalam kegiatan pembelajaran, karena dengan berbicara siswa bisa mengungkapkan ide dan gagasannya sendiri dan siswa merasa dilibatkan dalam proses pembelajaran tersebut.

Kegiatan berbicara dalam kegiatan pembelajaran sangatlah penting, terutama dalam proses komunikasi antara guru dengan siswa atau siswa dengan siswa lainnya. Dalam proses pembelajaran terjadilah komunikasi timbal balik atau komunikasi dua arah antara guru dengan siswa atau antara siswa dengan siswa. Diharapkan pembelajaran bersifat student centered ( berpusat pada siswa) sehingga siswa benar-benar terlibat dalam pembelajaran, hal ini mencakup kemampuan berbicara siswa dalam menyampaikan gagasan atau ide yang dimilikinya, seperti yang dijelaskan Arsjad dan Mukri( 1987:16) mengungkapkan bahwa kemampuan berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau mengucapkan kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan. Dengan demikian kemampuan berbicara siswa merupakan salah satu aktivitas siswa dalam pembelajaran.

 

B.   Rumusan Masalah

a.    Bagaimana pengertian keterampilan berbicara?

b.    Bagaimana hakikat berbicara?

c.    Bagaimana tujuan keterampilan berbicara?

d.    Bagaimana jenis-jenis keterampilan berbicara?

e.    Bagaimana teknik keterampilan berbicara?

f.     Bagaimana faktor penilaian keterampilan berbicara?

 

C.  Tujuan Penulisan

Dari rumusan masalah di asta, dapat diperoleh tujuan penulisan makalah ini sebagai berikut:

a.    Untuk mengetahui pengertian keterampilan berbicara.

b.    Untuk mengetahui hakikat berbicara.

c.    Untuk mengetahui tujuan keterampilan berbicara.

d.    Untuk mengetahui jenis-jenis keterampilan berbicara.

e.    Untuk mengetahui teknik keterampilan berbicara.

f.     Untuk mengetahui faktor penilaian keterampilan berbicara.


 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.  Pengertian Keterampilan Berbicara

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga (2011:1180), keterampilan merupakan kecakapan untuk menyelesaikan tugas, keterampilan berbahasa merupakan kecakapan seseorang untuk bahasa dalam menulis, membaca, menyimak atau berbicara Keterampilan merupakan kecakapan menyelesaikan tugas (Sanjaya Yasin, 2012:45). Sedangkan menurut Satria (2008.32), pengertian keterampilan (skiil) merupakan kegiatan yang memerlukan praktik atau dapat diartikan sebagai implikasi dari aktivitas. Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat ditegaskan bahwa keterampilan merupakan kecakapan seseorang dalam menyelesaikan suatu kegiatan atau tugas yang berhubungan dengan aktivitas praktik. Kecakapan yang dimaksudkan bermacam-macam, sesuai dengan kegiatan atau tugas yang diberikan.

Berbicara adalah salah satu keterampilan dalam berbahasa yang digunakan sehari-hari. Berbicara dilakukan sebagai alat komunikasi yang lebih efektif dan memegang peranan penting dalam kehidupan. Definisi dari berbicara berbeda-beda, diantaranya sebagai berikut. Menurut Nuraeni (2002:25) berbicara adalah proses penyampaian perubahan pengetahuan, sikap, dan keterampilan pendengar sebagai akibat dari informasi yang diterimanya. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berbicara adalah suatu berkata, bercakap, berbahasa atau melahirkan pendapat, dengan berbicara manusia dapat mengungkapkan ide, gagasan, perasaan kepada orang lain sehingga dapat melahirkan suatu interaksi. Berdasarkan beberapa pengertian tentang pengertian berbicara di atas dapat ditegaskan bahwa berbicara adalah kemampuan seseorang mengucapkan bunyi-bunyi bahasa dalam proses penyampaian informasi kepada pendengar untuk mengungkapkan ide, gagasan, maupun pesan sehingga melahirkan suatu interaksi Pada proses interaksi berbicara yang baik harus ada tiga komponen utama, yaitu (1) pembicara, sebagai penyampai pesan (2) isi pesan, dan (3) pendengar, sebagai penerima pesan.

Jadi, dapat kita ambil kesimpulan bahwa Keterampilan berbicara adalah sebuah kemampuan berbahasa dalam mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau mengucapkan kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, menyampaikan ide, pikiran, pendapat, gagasan, dan perasaan kepada orang lain sebagai mitra pembicara didasari oleh kepercayaan diri, jujur, benar, dan bertanggung jawab dengan menghilangkan masalah psikologis seperti malu, rendah diri, ketegangan, berat lidah, dan lain-lain, dengan tujuan menyampaikan pesan atau informasi kepadan pendengar. Berikut definisi dan pengertian keterampilan berbicara dari beberapa sumber buku:

a.    Menurut Iskandarwassid (2010), keterampilan berbicara adalah keterampilan memproduksi arus sistem bunyi artikulasi untuk menyampaikan kehendak, kebutuhan perasaan, dan keinginan kepada orang lain. Keterampilan ini juga didasari oleh kepercayaan diri untuk berbicara secara wajar, jujur, benar, dan bertanggungjawab dengan menghilangkan masalah psikologis seperti malu, rendah diri, ketegangan, berat lidah, dan lain-lain.

b.    Menurut Hermawan (2014), keterampilan berbicara adalah kemampuan mengungkapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan pikiran berupa ide, pendapat, keinginan atau perasaan kepada mitra pembicara.

c.    Menurut Arsjad dan Mukti (1988), keterampilan berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau mengucapkan kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Pendengar menerima informasi melalui rangkaian nada, tekanan, dan penempatan persendian (juncture).

d.    Menurut Utari dan Nababan (1993), keterampilan berbicara adalah pengetahuan bentuk-bentuk bahasa dan makna-makna bahasa tersebut, dan kemampuan untuk menggunakannya pada saat kapan dan kepada siapa. Kemampuan berbicara yang baik adalah kecakapan seseorang dalam menyampaikan sebuah informasi dengan bahasa yang baik, benar dan menarik agar dapat dipahami pendengar.

 

B.   Hakikat Keterampilan Berbicara

Berbicara adalah salah satu kemampuan berkomunikasi dengan orang lain melalui media bahasa. Berbicara adalah bentuk tindak tutur yang berupa bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap disertai dengan gerak-gerik tubuh dan ekspesi raut muka, Berbagai definisi telah dikemukakan untuk memberikan makna tentang berbicara. Sesuai fungsinya, berbicara adalah media yang digunakan manusia untuk berkomunikasi. Implikasi berbicara dalam kontek komunikasi pada dasarnya adalah hakikat berbicara yang meliputi:

a.         Berbicara merupakan ekspresi kreatif dan tingkah laku.

b.        Berbicara dan menyimak merupakan komunikasi yang seiring.

c.         Dalam konteks komunikasi dengan lawan berbicara, berbicara adalah komunikasi resiprokal.

d.        Berbicara adalah wujud individu berkomunikasi.

e.         Berbicara adalah pancaran kepribadian dan tingkah laku intelektual.

f.         Berbicara adalah keterampilan yang diperoleh melalui usaha belajar.

g.         Berbicara menjadi media untuk memperluas ilmu pengetahuan.

Berbicara merupakan kegiatan ekspresi kreatif dengan melibatkan berbagai anggota tubuh. Dalam berbicara, anggota tubuh secara spontan ikut berperan mengekspresikan dan menegaskan makna pembicaraan. Gerakan tangan, tubuh, dan raut muka secara serempak membangun satu kesatuan ekspresi mengikuti tuturan yang keluar dari pembicara.

Raut muka dan gerak tubuh memiliki fungsi dan ekspresi yang berbeda. Mata, hidung, bibir, alis, dan sebagainya membangun makna tersendiri. Mata melotot dapat diartikan marah, mata sayu dapat diartikan sedih. Bibir, muka, dan hidung dapat memberikan makna bahwa seseorang sedang serius, sedih, maupun gembira. Dalam kegiatan berbicara manusia juga memfungsikan organ lain dalam tubuh untuk mengekspresikan makna pembicaraan.

Berbicara sebagai kegiatan komunikasi melibatkan sebuah proses berbicara silih berganti antara pembicara dan lawan bicara. Artinya berbicara terjadi saling berbalas gantian berbicara. Pada saat pembicara mengeluarkan tuturan, pendengar berperan sebagai pendengar, dan sebaliknya pada saat pendengar mengambil alih kegiatan berbicara, pembicara sebelumnya berubah fungsi menjadi penyimak

Bentuk resiprokal ini membentuk kegiatan percakapan yang saling memberi dan menerima respon pembicaraan. Pembicara memberikan informasi dan lawan bicara menerima informasi. Kejadian ini secara sistematis berlangsung dalam percakapan yang membentuk sebuah keinginan menyamakan persepsi dari tuturan yang silih berganti. Inilah yang disebut sebuah proses komunikasi.

Kegiatan resiprokal berbicara tentu mengarah pada tema berbicara yang sama, yang membedakan adalah materi tuturan dari setiap pembicara yang berbeda. Pembicara dan lawan bicara memiliki pemikiran tersendiri untuk menyampaikan informasi, demikian pula lawan bicara akan bereaksi terhadap informasi yang diterima. Pembicaraan akan berakhir ketika keduanya memiliki pemahaman yang sama. Pemahaman yang berbeda dapat menciptakan perbedaan persepsi yang berbeda pula. Perbedaan ini melahirkan miscommunication, di antara pembicara dan lawan bicara. Keduanya saling berkeyakinan terhadap persepsi yang dianggapnya benar. Bentuk pembicaraan ini terlihat jelas ketika terjadi pada peristiwa berbicara yang disebut berdebat.

Berbicara dapat disebut juga sebagai tindak tutur dalam berkomunikasi. Ditinjau dari proses komunikasi ini, berbicara menjadi sarana untuk saling menyampaikan pesan dan menangkap pesan. Kegiatan menangkap atau menerima pesan berbicara dilakukan secara bergantian (resiprokal) dan dapat berlangsung secara terus-menerus. Pesan yang disampaikan dalam tindak tutur berbicara ini disertai tingkah laku dengan berbagai ekspresi.

Tingkah laku dan ekspresi dalam berbicara berlangsung sejalan. Kegiatan yang berlangsung secara resiprokal dalam berkomunikasi mendorong terjadinya ekspresi dan tingkah laku yang bervariatif. Tingkah laku dan ekspresif ini berlangsung sangat cepat dan spontan. Ekspersi wajah, mata melotot, tangan mengepal, badan menunduk, dan lain sebagainya dilakukan pembicara tanpa pernah dipikirkan terlebih dahulu. Hal yang sama juga berlangsung pada bagaimana pembicara mendapatkan ide, gagasan, kosa kata yang dipilih dalam menyampaikan pembicaraannya, semua berlangsung tanpa disadari. Namun demikian, hal berbeda dapat terjadi pada orang-orang yang telah terlatih berbicara, akan mampu mengendalikan tindak tuturnya melalui kontrol yang lebih temporal. Apa yang akan dituturkan dipikirkan terlebih dahulu. Inilah yang membedakan seseorang yang memiliki intelektualitas yang tinggi dalam berbicara.

Melalui kegiatan komunikasi, manusia dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan berimajinasi. Berbagai informasi yang berkembang dan diterima dan dikembangkan melaui proses berpikir inilah, manusia dapat meningkatkan kualitas hidup. Dengan kata lain, berbicara menjadi sarana untuk mengekspresikan ide, gagasan, imajinasi yang dimiliki kepada orang lain. Di sinilah terjadinya proses transfer dan produktif ilmu pengetahuan terjadi. Artinya, secara personal kegiatan berbicara seperti ini merupakan kegiatan individu dalam berkomunikasi.

Berbicara juga dapat diartikan sebagai pancaran kepribadian dan tingkah laku. Artinya, seseorang dalam berbicara selalu diikuti oleh apa yang ada dalam diri pembicara, dan hal ini ditunjukkan dalam perilaku. Sebuah ilustrasi tuturan, "Ah, saya tertipu, omongannya nggak ada yang benar!". Tuturan pembicaraan ini berimplikatur bahwa pancaran kejujuran yang selama ini diharapkan dalam tindak berbicara, dinilai tidak ada yang sesuai dengan perilaku yang ditunjukkan. Kepribadian dan tingkah laku dapat dilihat dari tindak tutur dalam berbiacara. Pembicaran yang handal akan memahami apakah lawan bicara yang dihadapi jujur atau seorang pembohong.

Kemampuan berbicara dapat dipelajari. Mempelajari keterampilan berbicara merupakan sebuah upaya untuk dapat bertutur dengan baik. Dimulai dari pengucapan vokal-vokal, meningkat sampai dalam bentuk tuturan bermakna dilakukan dengan berlatih. Demikian juga, manusia dapat berkomunikasi dengan orang lain dalam bentuk yang lebih komplek dapat tingkatkan melalui usaha latihan. Almarhum Zainuddin MZ sebagai mubalig sejuta umat, tidak serta merta menjadi penceramah yang mahir berakwah tanpa melalui proses latihan berbicara yang panjang. Demikian juga, seorang guru yang terampil mengajar tentu diawali dengan berlatih berkomunikasi dengan orang lain.

 

C.  Tujuan Keterampilan Berbicara

Tujuan berbicara secara umum adalah karena adanya dorongan keinginan untuk menyampaikan pikiran atau gagasan kepada orang lain (yang diajak berbicara). Sedangkan tujuan secara khusus ialah mendorong orang untuk lebih bersemangat, mempengaruhi orang lain agar mengikuti atau menerima pendapat (gagasannya), menyampaikan sesuatu informasi kepada lawan bicara, menyenangkan hati orang lain, memberi kesempatan lawan bicara untuk berpikir dan menilai gagasannya. Pembelajaran dalam melatih keterampilan berbicara harus mampu memberikan kesempatan kepada setiap individu mencapai kemampuan berbicara dengan baik. Menurut Hermawan (2014), tujuan keterampilan berbicara bagi peserta didik adalah sebagai berikut:

a.    Kemudahan berbicara, peserta didik harus dilatih untuk mengembangkan keterampilan berbicara agar terlatih kepercayaan diri dalam pengucapannya.

b.    Kejelasan, untuk melatih peserta didik agar dapat berbicara dengan artikulasi yang jelas dan tepat dalam pengucapan.

c.    Bertanggung jawab, latihan untuk peserta didik agar berbicara dengan baik dan dapat menempatkan pada situasi yang sesuai agar dapat bertanggung jawab.

d.    Membentuk pendengar yang kritis, melatih peserta didik dalam menyimak lawan bicara dan mampu mengoreksi jika ada ucapan yang salah.

e.    Membentuk kebiasaan, yaitu membiasakan peserta didik dalam mengucapkan kosa kata atau kalimat sederhana secara baik dan ini juga harus dibantu oleh lingkungan sekolah atau guru.

 

D.  Jenis-jenis Berbicara

Menurut Musaba (2012), keterampilan berbicara dapat dibagi menjadi beberapa jenis, antara lain yaitu sebagai berikut:

 

a.    Bercerita

Bercerita adalah menuturkan suatu cerita secara lisan (walaupun bahan cerita bisa berwujud karangan tertulis). Kebiasaan bercerita ini banyak ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Pada waktu dulu kegiatan bercerita jauh lebih semarak, dibandingkan masa sekarang. Kegiatan bercerita di kalangan masyarakat Jawa dan beberapa daerah lain juga mengenal kegiatan bercerita berupa pertunjukan wayang yang dibawakan oleh dalang dengan perangkat alatnya. Banyak daerah lain mengenal kegiatan bercerita tersebut dengan nama dan cara yang berbeda-beda. Kegiatan bercerita yang disebutkan di sini lebih bersifat tradisional, berlaku secara turun-temurun.

b.    Debat

Istilah debat tampaknya juga cukup dikenal di kalangan masyarakat. Terkadang ada ungkapan untuk seseorang yang senang berdebat, maka disebut suka debat atau jago debat. Debat sebenarnya mirip dengan dialog. Debat berarti bertukar pikiran secara terbuka untuk membahas masalah yang masih merupakan pro dan kontra dengan memperhatikan aturan dan tata tertib tertentu.

c.    Diskusi

Istilah diskusi cukup dikenal, terutama di kalangan kaum terdidik. Bagi kalangan kampus, diskusi sudah merupakan kegiatan yang dianggap lazim. Diskusi diartikan sebagai pertemuan ilmiah untuk bertukar pikiran mengenai suatu masalah. Diskusi kelompok biasanya ditandai dengan lebih terbatasnya jumlah peserta, tingkat keformalannya kurang menonjol. Diskusi panel biasanya menghadirkan beberapa pembicara kunci atau para penyaji materi, kemudian diikuti audiens. Dalam diskusi panel yang banyak berperan adalah para panelis (para penyaji atau pembicara), audiens memang diberi kesempatan memberikan pendapat atau tanggapan, tetapi jatahnya lebih sedikit.

d.    Wawancara

Wawancara merupakan kegiatan tanya jawab dengan seseorang yang diperlukan untuk dimintai keterangan atau pendapatnya mengenai suatu hal untuk dimuat dalam surat kabar, disiarkan melalui radio atau ditayangkan pada layar televisi. Istilah wawancara sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat. Wawancara mirip dengan dialog. Namun, wawancara cenderung lebih mengaktifkan orang yang diwawancarai. Orang yang diwawancarai tentu amat beragam, bisa ia merupakan seorang ahli atau nara sumber, juga bisa sebagai anggota masyarakat biasa.

e.    Pidato dan Ceramah

Pidato adalah sebuah kegiatan berbicara di depan umum atau berorasi untuk menyatakan pendapatnya, atau memberikan gambaran tentang suatu hal. Sedangkan ceramah merupakan suatu kegiatan berbicara di depan umum dalam situasi tertentu untuk tujuan tertentu dan kepada pendengar tertentu.

f.     Percakapan

Percakapan adalah dialog antara dua orang atau lebih. Membangun komunikasi melalui bahasa lisan (melalui telepon, misalnya) dan tulisan (di chat room). Percakapan ini bersifat interaktif yaitu komunikasi secara spontan antara dua atau lebih orang.

 

E.   Teknik Keterampilan Berbicara

Menurut Oetomo (2015), terdapat beberapa teknik berbicara yang harus dikuasai untuk mendapatkan kemampuan atau keterampilan berbicara, yaitu sebagai berikut:

a.    Teknik berbicara yang Baik

Bicaralah ramah pada setiap orang. Perkataan/artikulasi pun harus jelas agar tidak terjadi mis-communication. Perhatikan pula pemilihan kata. Meski bertujuan baik, jika salah berkata-kata maka tujuan itu tidak akan tercapai. Lakukan kontak mata pada lawan bicara. Saat bicara dengan atasan, usahakan fokus. Bicara seperlunya, Jangan ngelantur sehingga intinya malah tidak jelas. Kalau atasan memancing kita membicarakan masalah personal seorang rekan sekerja, sebagai bawahan yang profesional sebaiknya kita berbicara diplomatis.

b.    Teknik berbicara di depan umum

Berbicara di depan umum bukanlah soal bakat. Kemampuan tersebut bisa dilatih dengan kepercayaan diri dan kuasai bahan pembicaraan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melatih teknik berbicara di depan umum antara lain adalah sebagai berikut:

a)    Tunjukkan antusias terhadap situasi dan pendengar.

b)   Lakukan kontak mata 5-15 detik, dan tatapan kita pun harus berkeliling bukan pada satu orang saja. Jadi, semua orang merasa diajak berbicara.

c)    Perlihatkan senyuman agar lawan bicara fokus pada kita.

d)   Sisipkanlah humor, karena humor akan menghilangkan kejenuhan, namun hindari humor yang berbau porno.

e)    Fokus pada pembicaraan.

f)    Tidak perlu memperlihatkan semua wawasan yang kita punya, karena akan menunjukkan kita sok pintar.

g)    Berikan pujian yang jujur pada orang lain, tanpa menyimpang dari maksud.

c.    Teknik Berbicara Profesional

Seorang profesional perlu mengenal teknik presentasi yang efektif. Terdapat tiga faktor penting yang perlu diperhatikan dalam berbicara secara profesional, yaitu:

1.    Faktor verbal 7 %, menyangkut pesan yang kita sampaikan termasuk kata-kata yang kita ucapkan.

2.    Faktor vokal, 38 %, seperti intonasi, penekanan, dan resonansi suara.

3.    Faktor visual, 55 % yakni penampilan kita.

d.    Teknik Membuka dan Menutup Pembicaraan

Untuk mengawali suatu pembicaraan, adakan lah small talk, seperti mengucapkan selamat pagi, siang atau malam. Untuk memancing perhatian pendengar, lemparkan joke ringan. Setelah itu baru ke topik utama. Akhiri pembicaraan dengan ilustrasi dan summary hasil pembicaraan di dalamnya. Jadi, jangan bicara dari A sampai Z, sebaiknya diringkas sehingga orang mengerti dan tidak melupakan pesan atau inti sari pembicaraan. Berbicara atau berkomunikasi secara profesional menuntut kesiapan tiga hal. Pertama wawasan atau materi yang disampaikan, kedua cara penyampaian yang meliputi gerak, intonasi suara, dan penekanannya, ketiga penampilan. Semua hal tersebut dapat dipelajari asalkan siswa memiliki kemauan. Milikilah motivasi untuk maju dan berkembang mencapai keberhasilan yang diinginkan.

 

F.   Faktor Penilaian Berbicara

Menurut Arsjad dan Mukti (1988), terdapat dua faktor yang harus diperhatikan oleh pembicara dalam memperoleh keterampilan berbicara dengan efektif dan baik, yaitu faktor kebahasaan dan faktor non-kebahasaan. Adapun penjelasan dari dua faktor penilaian keterampilan berbicara tersebut adalah sebagai berikut:

a.    Faktor Kebahasaan

Faktor-faktor kebahasaan sebagai penilaian keterampilan berbicara seseorang antara lain adalah sebagai berikut:

a)      Ketepatan ucapan. Seorang pembicara harus membiasakan diri mengucapkan bunyi-bunyi bahasa secara tepat. Pengucapan bunyi-bunyi bahasa yang tidak tepat atau cacat akan menimbulkan kebosanan, kurang menyenangkan, atau kurang menarik, atau sedikitnya bisa mengalihkan perhatian pendengar. Pengucapan bunyi-bunyi bahasa dianggap cacat kalau menyimpang terlalu jauh dari ragam lisan biasa. Sehingga terlalu menarik perhatian, mengganggu komunikasi, atau pemakaiannya (pembicara) dianggap aneh.

b)      Penempatan tekanan, nada, sendi dan durasi yang sesuai. Kesesuaian tekanan, nada, sendi, dan durasi merupakan daya tarik tersendiri dalam berbicara, bahkan kadang-kadang merupakan faktor penentu. Ketepatan masalah yang dibicarakan dan durasi yang sesuai, akan menjadi lebih menarik. Sebaliknya jika penyampaiannya datar saja, hampir dapat dipastikan dapat menimbulkan kejemuan dan keefektifan berbicara tentu berkurang.

c)      Pilihan kata (diksi). Pilihan kata hendaknya tepat, jelas, dan bervariasi. Jelas maksudnya mudah dimengerti oleh pendengar yang menjadi sasaran. Pendengar akan lebih terangsang dan akan lebih paham, kalau kata-kata yang digunakan kata-kata yang sudah dikenal oleh pendengar. Pendengar akan lebih tertarik dan senang mendengarkan kalau pembicara berbicara dengan jelas dalam bahasa yang dikuasainya, dalam arti yang betul-betul menjadi miliknya, baik sebagai perorangan maupun sebagai pembicara. Selain itu, pilihan kata juga disesuaikan dengan pokok pembicaraan.

d)      Ketepatan sasaran pembicaraan. Hal ini menyangkut pemakaian kalimat pembicara yang menggunakan kalimat efektif akan memudahkan pendengar menangkap pembicaraannya. Susunan penuturan kalimat ini sangat besar pengaruhnya terhadap keefektifan penyampaian. Seorang pembicara harus mampu menyusun kalimat efektif, kalimat yang mengenai sasaran, sehingga mampu menimbulkan pengaruh, meninggalkan kesan, atau menimbulkan akibat.

b.    Faktor non-kebahasaan

Faktor non kebahasaan sebagai penilaian keterampilan berbicara seseorang antara lain adalah sebagai berikut:

a)      Sikap yang wajar, tenang, dan tidak kaku. Pembicara yang tidak tenang, lesu, dan kaku tentu akan memberikan kesan pertama yang kurang menarik. Dari sikap yang wajar saja sebenarnya pembicara sudah dapat menunjukkan otoritas dan integritas dirinya. Tentu saja sikap ini sangat ditentukan oleh situasi, tempat, dan penguasaan materi.

b)      Pandangan harus diarahkan pada lawan bicara. Supaya pendengar dan pembicara betul-betul dalam kegiatan berbicara, maka pandangan pembicara harus sesuai. Pendengar yang hanya tertuju pada satu arah, akan menyebabkan pendengar merasa kurang diperhatikan.

c)      Kesediaan menghargai pendapat orang lain. Dalam menyampaikan isi pembicaraan, seorang pembicara hendaknya memiliki sikap terbuka dalam arti dapat menerima pendapat pihak lain, bersedia menerima kritik, bersedia mengubah pendapatnya kalau ternyata memang keliru.

d)      Gerak-gerik dan mimik yang tepat. Gerak-gerik dan mimik yang tepat dapat pula menunjang keefektifan berbicara. Hal-hal yang penting selain mendapat tekanan, biasanya juga dibantu dengan gerak-gerik atau mimik. Hal ini dapat menghidupkan komunikasi, artinya tidak kaku. Tetapi gerak-gerik yang berlebihan akan mengganggu keefektifan berbicara.

e)      Kenyaringan suara yang pas. Tingkat kenyaringan ini tentu disesuaikan dengan situasi, tempat, jumlah pendengar, dan akustik. Tetapi perlu diperhatikan jangan berteriak, aturlah kenyaringan suara supaya dapat didengar oleh semua pendengar dengan jelas, dengan juga mengingat kemungkinan gangguan dari luar.

f)       Kelancaran. Seorang pembicara yang lancar berbicara akan memudahkan pendengar menangkap isi pembicaraannya. Sering kali seorang mendengar pembicara berbicara terputus-putus, bahkan antara bagian-bagian yang terputus itu diselipkan bunyi-bunyi tertentu yang sangat mengganggu penangkapan pendengar, misalnya menyelipkan bunyi e, o, a, dan sebagainya. Sebaliknya pembicara yang terlalu cepat berbicara juga akan menyulitkan pendengar menangkap pokok pembicaraannya.

g)      Relevansi/Penalaran. Gagasan demi gagasan haruslah berhubungan dengan kenyataan. Proses berpikir untuk sampai pada suatu kesimpulan haruslah jelas. Hal ini berarti hubungan bagian-bagian dalam kalimat dan hubungan kalimat dengan kalimat harus jelas serta berhubungan dengan pokok pembicaraan.

h)      Penguasaan topik. Pembicaraan formal selalu menuntut persiapan, tujuannya tidak lain supaya topik yang dipilih betul-betul dikuasai. Penguasaan topik yang akan menumbuhkan keberanian dan kelancaran. Jadi penguasaan topik ini sangat penting, bahkan merupakan faktor utama dalam berbicara.

 

BAB III

PENUTUP

 

A.  Kesimpulan

Berbicara sebagai suatu keterampilan berbahasa, dimana bahasa memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia yaitu sebagai sarana komunikasi. Dalam memperoleh keterampilan berbahasa, biasanya kita melalui suatu hubungan urutan yang tertatur: mula-mula pada masa kecil kita belajar menyimak bahasa, kemudian berbicara, sesudah itu kita belajar membaca dan menulis. Menyimak dan berbicara kita pelajari sebelum memasuki sekolah. Keempat keterampilan tersebut pada dasarnya merupakan suatu kesatuan

Secara umum tujuan pembicara adalah 1) mendorong atau menstimulasi, 2) meyakinkan, 3) menggerakkan, 4) menginformasikan, dan 5) menghibur. Kalau kita memandang berbicara sebagai seni maka penekanan diletakkan pada penerapannya sebagai alat komunikasi dalam masyarakat, dan butir-butir yang mendapat perhatian, misalnya berbicara dimuka umum, sedangkan jika berbicara sebagai ilmu atau teori berbicara akan sangat bermanfaat dalam menunjang kemahiran serta keberhasilan seni atau peraktek berbicara. Secara garis besar, berbicara di muka umum pada masyarakat ( public speaking ) yang mencangkup empat jenis, yaitu: berbicara dalam situasi-situasi yang bersifat memberitahukan atau melaporkan (informatif), berbicara pada konferens, prosedur parlementer serta debat. Dalam metode penyampaian dan penilaian berbicara terdapat empat metode yang dipilih dari yang terbaik yaitu: penyampaian mendadak, penyampaian tanpa persiapan, penyampaian dari naskah dan penyampaian dari ingatan.

 

B.   Saran

Dikarenakan berbicara sangat penting dalam berkomunikasi, jadi kita perlu memahami bahwa dalam berbicara kita harus mempunyai kemampuan dalam mengucapkan bunyi artikulasi atau mengucapkan kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan dengan baik. Selain itu, kita juga harus melatih teknik keterapilan berbicara yang baik sesuai faktor penilaian berbicara sehingga tujuan dalam berbicara kita dapat dipahami dan dimengerti oleh pendengar.

 

 

 


DAFTAR PUSTAKA

 

Arsjad, Mukti .1991.Pembinaan Kemampuan Berbicara Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.

Iskandarwassid, D.S. 2010. Strategi Pembelajaran Bahasa. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Utari, Nababan. 1993. Metodologi Pengajaran Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Musaba, Zulkifli. 2012. Terampil Berbicara. Yogyakarta: Aswaja Pressindo

Oetomo. 2015. Melatih Kemampuan Berbicara. Online: www.bahana-magazine.com

Hermawan, Acep. 2014. Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. Bandung: Remaja Rosdakarya.

http://repository.unj.ac.id/1841/6/9.%20BAB%20II.pdf

https://online-journal.unja.ac.id/pena/article/view/1451/7272#:~:text=tingkat%20kemahiran %20berkomunikasi.,HAKIKAT%20BERBICARA,tubuh%20dan%20ekspesi %20raut%20muka.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kolaborasi Antar Warga Sekolah dalam Mempersiapkan Acara School Play di SD Mutiara Harapan Islamic School Bangka Acara STEAM Fair di SD Muti...